Total Tayangan Halaman

Rabu, 11 Januari 2012

PENDIDIKAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTER


PENDIDIKAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTER
A.    Latar  Belakang Masalah
Dalam UUSPN  No. 20 tahun 2003 bab 2 pasal 3 dijelaskan mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Mencermati fungsi pendidikan nasional tersebut, seharusnya peran pendidikan dapat memberikan pencerahan bagi bangsa Indonesia dimana pendidikan seharusnya bisa berdampak positif  terhadap watak dan kepribadian sehingga bisa tercermin dalam perilaku manusia/ bangsa Indonesia.
Namun pada kenyataanya sekarang banyak sekali orang-orang yang notabene telah mengenyam pendidikan tinggi namun dalam perilakunya tidak mencerminkan layaknya orang yang berpendidikan. Contoh yang memilukan yaitu banyaknya wakil rakyat yang harusnya mengayomi rakyat tetapi mereka justru menggerogoti uang rakyat dengan korupsi dan lebih parah lagi akhlak / moral generasi muda sebagai penerus bangsa banyak yang rusak. Hal tersebut ditandai dengan maraknya seks bebas di kalangan remaja, tawuran antar pelajar, peredaran narkoba, peredaran video porno.
Keadaan yang memprihatinkan tersebut tentu saja membuat prihatin bagi kita semua sehingga perlu dilakukan upaya perbaikan. Salah satu upayanya adalah dengan pendidikan berbasis karakter. Upaya ini selain sebagai pembentukan akhlak anak bangsa, juga diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam menyukseskan Indonesia di masa mendatang
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal sebagai berikut:
1.      Bagaimana urgensi pendidikan sebagai pembentuk karakter peserta didik?
2.      Bagaimana esensi dari pendidikan karakter?
3.      Bagaimana cara mengembangkan pendidikan karakter?
4.      Bagaimana pengaruh pendidikan karakter dalam prestasi belajar?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Urgensi Pendidikan Sebagai Pembentuk Karakter Peserta Didik
Pendidikan tidak hanya mendidik para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia. Dalam Islam akhlak disebut juga sebagai karakter atau kepribadian yang mempunyai tiga komponen yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku. Seseorang dikatakan berkepribadian utuh jika pengetahuan sama dengan sikap dan sama dengan perilaku. Jika salah satu dari ketiga komponen tersebut tidak sesuai maka kepribadian sesorang pecah (split personality). Contohnya seseorang mengetahui kalau jujur itu baik dan siap menjadi orang jujur tetapi perilakunya sering tidak jujur.
Saat ini pendidikan di Indonesia dinilai oleh banyak kalangan tidak bermasalah dalam mencerdaskan para peserta didiknya, namun dinilai kurang berhasil dalam membangun kepribadian atau karakter peserta didiknya agar berakhlak mulia. Oleh karena itu pendidikan berbasis karakter dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak.[1]
Pendidikan karakter menurut Fakry Gaffar adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang. Dalam definisi tersebut ada tiga ide pikiran penting yaitu: proses transformasi, ditumbuhkembangkan dalam kepribadian, dan menjadi satu dalam perilaku.
Sedangkan menurut Dharma Kesuma dkk mendefinisikan pendidikan karakter dalam seting sekolah sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah.[2]
Definisi tersebut mengandung makna:
a.       Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang terintegrasi dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran.
b.      Diarahkan pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh. Asumsinya anak merupakan organisme  manusia yang memiliki potensi untuk dikuatkan dan dikembangkan.
c.       Penguatan dan pengembangan perilaku didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah (lembaga).
Pendidikan karakter sudah tentu penting untuk semua tingkat pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Secara umum sebenarnya pendidikan karakter dibutuhkan semenjak usia dini. Apabila karakter sudah terbentuk dan terinternalisasi sejak usia dini maka ketika dewasa ia tidak mudah goyah terhadap rayuan yang menggodanya.
Dalam hal ini pendidikan khususnya guru sebagai media sosialisasi kedua setelah keluarga mempunyai peran yang besar dalam mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai sosial dalam pembentukan karakter atau kepribadian peserta didik.[3]
Guru merupakan sosok penting dalam dalam pendidikan karakter karena sebagus apapun konsepnya tidak akan berhasil kalau guru yang mendidik dan mengajar tidak memberi teladan dalam berperilaku.
Sekolah sebagai institusi pendidikan dimana pendidikan itu sendiri merupakan proses pembudayaan tidak dapat lagi menghindarkan diri dari upaya pembentukan karakter peserta didik karena melihat realita sekarang dimana telah terjadi disintegrasi dalam masyarakat memang pendidikan berbasis karakter bukan lagi sebagai opsi disekolah melainkan suatu keharusan.
B.     Esensi pendidikan berbasis karakter
Menurut Socrates tujuan pendidikan adalah membuat manusia menjadi good and smart sedangkan menurut fuad hasan pakar pendidikan Indonesia mengatakan bahwa pendidikan adalah pembudayaan yang bermuara pada pengalihan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial. Sementara mardiatmaja mengatakan bahwa pendidikan karakter sebagai ruh pendidikan dalam memanusiakan manusia.
Berdasarkan pemaparan para tokoh di atas menunjukkan bahwa pendidikan sebagai nilai universal kehidupan yang bertujuan untuk merubah manusia menjadi lebih baik dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Dalam pendidikan karakter terdapat pilar-pilar utama yaitu:[4]
a.       Moral knowing
Moral knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur yaitu:
§  Kesadaran moral
§  Pengetahuan tentang nilai-nilai moral
§  Penentuan sudut pandang
§  Logika moral
§  Keberanian mengambil atau menentukan sikap
§  Pengenalan diri
Keenam unsur ini yang harus diajarkan kepada siswa untuk mengisi ranah pengetahuan mereka. Pembinaan pola pikir/kognitif secara luas dan mendalam tidak saja membuat siswa menjadi cerdas tetapi juga memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam berpikir dan bertindak serta mampu belajar dan menangkap peristiwa yang ada disekitarnya kemudian menyimpulkannya sebagai pengalaman dan pelajaran berharga yang memperkaya kazanah pengetahuan.
b.      Moral loving/ moral feeling
Seseorang yang memiliki kemampuan moral kognitif yang baik, tidak saja menguasai bidangnya, tetapi memiliki dimensi rohani yang kuat.
Afektif, yakni pembinaan sikap mental yang mantap dan matang sehingga sikapnya selalu mencerminkan sikap yang credible, menghormati dan dihormati.
Moral loving merupakan penguatan aspek emosi siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri:
§  Percaya diri
§  Kepekaan terhadap derita orang lain
§  Cinta kebenaran
§  Pengendalian diri
§  Kerendahan hati
Bersikap merupakan wujud keberanian untuk memilih secara sadar. Setelah itu ada kemungkinan ditindaklanjuti dengan mempertahankan pilihan lewat argumentasi yang bertanggung jawab, kukuh, dan bernalar.
Bersikap inilah yang menbutuhkan strategi belajar mengajar yang tepat.
Konsep pembelajaran yang terlalu menekankan pada aspek penalaran /hafalan akan sangat berpengaruh pada sikap peserta didik. Menghafal tentu ada gunanya tetapi jika terlalu dominan maka bisa menghambat siswa dalam berekspresi atau menunjukkan keinginannya dalam berpendapat dan bersikap.
Point penting dalam hal ini adalah membekali anak didik dalam kebiasaannya bersikap dan terus mendorongnya agar mau menyampaikan keinginannya secara terbuka dan bertanggung jawab.
c.       Moral doing
Fitrah manusia sejak lahir adalah kebutuhan dirinya kepada orang lain. Kita tidak mungkin bisa survive tanpa kehadiran orang lain. Bila seorang filsuf barat mengatakan aku ada karena aku berpikir kita dapat mengatakan aku ada karena aku memberikan makna bagi orang lain. Untuk dapat member manfaat kepada orang lain tentulah harus mempunyai kemampuan atau kompetensi dan keterampilan. Hal ini harus menjadi perhatian bagi semua kalangan baik itu pendidik, orang tua maupun lingkungan sekitar agar proses belajar siswa diarahkan pada proses pembentukan kompetensi dan juga keterampilan sehingga siswa kelak dapat memberi manfaat baik untuk dirinya dan juga orang lain.
Ketiga pilar tersebut harus berjalan secara seimbang, jika moral knowing dan moral loving sudah terbentuk secara baik dan terinternalisasi makan moral doing sebagai outcome akan dengan mudah muncul dengan sendirinya dari diri siswa.
Dalam hal ini guru harus benar-benar dapat menyuguhkan ketiga pilar tersebut secara logis, rasional dan demokratis sehingga perilaku yang muncul benar-benar merupakan suatu karakter bukan topeng belaka.
C.    Cara mengembangkan pendidikan karakter
Pendidikan karakter dianggap penting karena pendidikan di Indonesia saat ini dinilai lebih mngutamakan pengembanhan kecerdasan intelektual  (IQ). Padahal jika pendidikan hanya mengutamakan IQ hal tersebut menjadikan pendidikan kurang komprehensif. Sebab masih ada dua kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional EQ   dan kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan intelektual adalah kemampuan potensial manusia untuk mempelajari sesuatu menggunakan alat-alat berpikir. Kecerdasan ini masih menjadi primadona dalam pendidikan di Indonesia.
Sedangkan kecerdasan emosional terdiri dari lima komponen pokok yaitu : kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur sebuah hubungan sosial. Secara teknis kecerdasan emosial ini pertama kali digagas oleh Daniel Goleman. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh 20% kecerdasan intelektual dan 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosional dan spiritual. [5]
Kemudian yang ketiga adalah kecerdasan spiritual yang terkait erat dengan  kemampuan manusia yang berujung pada pencerahan jiwa, karena kecerdasan ini mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik sebuah kenyataan atau kejadian tertentu. Dengan demikian orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang baik akan mampu memaknai secara positif pada setiap menghadapi masalah, mengalami penderitaan sehingga dapat membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan positif.
Dalam lembaga pendidikan yang memperhatikan ketiga kecerdasan tersebut secara seimbang maka akan menghasilkan output didikan yang mempunyai kepribadian yang baik sehingga mampu bersaing, beretika dan bermoral dalam membangun hubungan sosial di masyarakat. Sebab kesusksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh intelektualitas semata melainkan ditentukan juga oleh kemampuan mengelola diri dan menjalin hubungan secara sosial.
D.    Pengaruh pendidikan karakter terhadap keberhasilan belajar
Pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan di sekolah karena karakter erat kaitannya dengan keberhasilan anak didik dalam belajar disekolah. Ada sederet resiko penyebab kegagalan anak disekolah dan sederet resiko tersebut bukan terletak pada kecerdasan intelektual melainkan pada karakter. Untuk itu perlu diperhatikan agar resiko tersebut bisa disiasati. Adapun beberapa karakter tersebut diantaranya adalah[6] :
·         Rasa percaya diri
Dalam proses belajar mengajar disekolah, anak didik harus dibangun agar mempunyai rasa percaya diri yang baik. Salah satu caranya adalah dengan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengerjakan sesuatu sehingga dengan sendirinya bisa tumbuh dan berkembang rasa percaya dirinya.
Dalam banyak kasus terkadang orang tua justru mematikan rasa percaya diri anak dengan alasan khawatir atau ingin membantu misalnya diberi PR oleh guru tetapi yang mengerjakan justru orang tuanya. Disinilah sesungguhnya guru dan orangtua hendaknya bisa member kepercayaan kepada anak didik supaya tumbuh rasa percaya dirinya. Tanpa kepercayaan diri yang baik potensi atau kelebihan yang dimiliki anak justru akan redup.
·         Kemampuan bekerja sama
Kemampuan dalam menjalin kerjasama dapat dilatih kepada peserta didik dengan bekerja kelompok atau permainan yang melibatkan lebih dari satu orang. Kerja sama menjadi penting karena kita hidup tidak mungkin bisa tanpa orang lain. Untuk memperoleh kesuksesan kita juga membutuhkan orang lain sehingga kemampuan ketjasama mutlak diperlukan dalam hidup.
·         Kemampuan bergaul
Kemampuan bergaul berbeda dengan kemampuan bekerjasama. Kemampuan bekerjasama merupakan hubungan dua orang atau lebih dalam rangka melaksanakan kesepakatan bersama tetapi kemampuan bergaul merupakan kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan sosial dengan siapa saja. Orang yang pandai bergaul akan memiliki banyak teman relasi dan sudah pasti mempunyai banyak keuntungan.  Orang yang pandai bergaul mempunyai kepribadian yang riang dan semangat sehingga bisa berpengaruh terhadap semangat belajarnya lain halnya dengan orang yang kurang bisa bergaul cenderung murung dan prestasi belajar juga cenderung tidak begitu bagus.
·         Kemampuan berempati
Kemampuan untuk berempati penting dimiliki oleh setiap pribadi termasuk para anak didik di sekolah. Dengan mempunyai empati sesorang akan bisa membangun kedekatan dengan orang lain, mempunyai tenggang rasa, ringan dalam memberikan pertolongan.
Kemampuan berempati anak didik bisa dibangun dengan membangun kesadaran untuk memahami kesedihan orang lain, missal apabila da teman yang keluarganya sakit, anak didik diajak untuk menjenguk dan member bantuan. Jika anak sudah terbiasa dengan rasa emapati akan lebih mudah bergaul dengan teman-teman maupun lingkungannya sehingga secara otomatis akan mempermudah dalam meraih kesuksesan.
·         Kemampuan berkomunikasi
Manusia adalah makhluk sosial sehingga tidak bisa hidup sendiri sehingga ia harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Namun banyak juga orang yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik sehingga hal ini menjadi penting untuk dipelajari.
Demikianlah karakter penting yang harus dibangun pada diri anak didik agar ia lebih mudah dalam meraih keberhasilan dalam proses belajar mengajar di sekolah maupun di kehidupan setelah lulus.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pendidikan berbasis karakter menjadi penting karena melihat kenyataan yang terjadi saat ini di masyarakat telah mengalami disintegrasi sehingga menuntut lembaga pendidikan sebagai media sosial kedua setelah orang tua harus menyiapakn apa-apa yang dibutuhkan dalam masyarakat.
Dalam pendidikan karakter dengan 3 pilar utamanya yaitu knowing, loving dan doing maka diharapkan  output yang dihasilkan dari proses pembelajaran tidak hanya cerdas dalam ranah intelektualitasnya saja tetapi juga memiliki perilaku yang berakhlak mulia, tanggung jawab dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti yang diharapkan dalam UUSPN.
Lembaga pendidikan disini khusunya guru mempunyai peran penting dalam mewujudkannya yaitu dengan menginternalisasikan nilai-nilai karakter yang diharapkan agar bisa tertanam dalam diri siswa dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.











DAFTAR PUSTAKA

Asset, Akhmad Muhaimin.2011.Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogayakarta: Ar-ruzz Media.
Majid,Abdul dkk. 2011.Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Kesuma, Dharma dkk. 2011. Pendidikan Karakter. Bandung : Remaja Rosdakarya.


[1] Akhmad Muhaimin Asset. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. (Yogyakarta: Arruz Media.2011). hal.15.
[2] Dharma Kesuma dkk. Pendidikan Karakter. (Bandung : Remaja Rosdakarya.2011) hal.5
[3] Abdul Majid dkk. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosdakarya.2011). hal. 5
[4] Ibid. hal. 31-36
[5] Akhmad Muhaimin Asset. Urgensi Pendidikan…. Hal.86
[6] Ibid. hal. 41-47

Tidak ada komentar:

Posting Komentar